TANGGAMUS, Trabasnews.id - Di pelosok Pekon Sudimoro, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, ancaman stunting menghantui. Namun, asa baru datang dari sentuhan mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati. Pada 14 Agustus 2025, mereka tak hanya datang membawa teori, tapi juga solusi nyata: "LASKAR," Labu Kuning Kreasi Rumahan!
Balai Pekon Sudimoro menjadi saksi bisu semangat perubahan. Ibu hamil, ibu dengan balita dan batita, serta para kader desa, berbondong-bondong hadir. Mereka bukan hanya pendengar pasif, tapi juga agen perubahan yang siap menerima ilmu dan inovasi.
Mahasiswa Universitas Malahayati tak hanya berceramah tentang bahaya stunting. Mereka membongkar mitos, memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya gizi sejak janin, dan memberikan kunci pola asuh yang tepat.
Namun, kejutan sesungguhnya adalah "LASKAR." Kreasi labu kuning ini bukan sekadar makanan tambahan biasa. Ia adalah simbol harapan, bukti bahwa gizi bergizi tak harus mahal dan sulit didapat.
"Wah, kuenya sangat menarik! Lembut, warnanya menggoda anak-anak," seru seorang ibu, matanya berbinar. "LASKAR" bukan hanya lezat, tapi juga membangkitkan selera anak-anak yang susah makan.
Aparatur pekon tak bisa menyembunyikan rasa kagum. "Ini bukan sekadar penyuluhan," ujar seorang perangkat desa. "Ini adalah gerakan nyata, solusi yang bisa langsung diterapkan."
"LASKAR" bukan hanya inovasi makanan. Ia adalah simbol perlawanan terhadap stunting, bukti bahwa dengan semangat dan kreativitas, kita bisa mengubah masa depan generasi penerus. Universitas Malahayati telah menorehkan tinta emas di Sudimoro. Akankah ini menjadi inspirasi bagi daerah lain? Waktu yang akan menjawab.(Sihan)